Kamis, 13 November 2014

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH SALAK

Kulit salak pondoh (Salacca edulis) memiliki khasiat dalam penyembuhan diabetes karena terdapat kandungan antioksidan seperti flavonoid dan tannin. Selain kulit salak, tanaman di Indonesia yang mengandung antioksidan yaitu pandan wangi dan kayu manis. Hal ini menjadikan peluang kulit salak, pandan wangi, dan kayu manis dapat dikembangkan menjadi teh herbal kulit salak untuk pengobatan diabetes.Dari hasil penelitian teh herbal kulit salak menggunakan perlakuan proporsi filtrat kulit salak : pandan wangi (60:40), (75:25), (90:10) (v/v) dan filtrat kayu manis (1%, 2%, 4%), diperoleh perlakuan terbaik pada proporsi filtrat kulit salak : filtrat pandan wangi (90:10) dengan penambahan filtrat kayu manis 4% memiliki total fenol sebesar 166.02 ppm, aktivitas antioksidan 76.62%, dan flavonoid (positif).

Buah salak tergolong banyak digemari masyarakat ternyata manfaatnya sangat besar. Buah salak tidak hanya dimanfaatkan daging buahnya untuk dimakan akan tetapi bagian lain seperti kulit dan bijinya juga dapat dimanfaatkan. Sebagian masyarakat percaya dan pernah mencoba meminum air seduhan kulit salak untuk mengatasi penyakit diabetes [3]. Dari hasil fitokimia menunjukkan kulit buah salak mengandung senyawa flavonoid dan tannin serta sedikit alkaloid [4]. Kandungan flavonoid di dalam ekstrak kulit salak mampu menurunkan kadar glukosa dalam darah.Selain kulit salak pondoh, tanaman yang jumlahnya melimpah di Indonesia yang mengandung antioksidan yaitu pandan wangi dan kayu manis. Kayu manis atau Cinnamoun burmani merupakan salah satu rempah-rempah yang disamping berfungsi sebagai flavor juga mempunyai aktivitas antioksidan dalam melawan bahaya radikal bebas [5]. Pandan wangi atau Pandanus amaryllifoliusi selain memiliki aroma yang baik, pandan wangi juga mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, polifenol dan lain-lain [6].
Pada penelitian ini, kulit salak diformulasikan dengan kayu manis dan pandan wangi menjadi produk pangan fungsional menjadi sebuah minuman herbal yang dikenal dimasyarakat sebagai teh herbal berbasis kulit salak yang penggunaanya praktis dan higienis. Dikarenakan pada saat ini konsumen cenderung ingin mengkonsumsi produk yang mudah disimpan, dibawa, disajikan, lebih praktis dan higienis yaitu minuman instan [7]. Dalam pembuatan teh herbal kulit salak ini digunakan pemanis alami bebas kalori yaitu stevia yang tidak memicu peningkatan glukosa darah. Diharapkan teh herbal kulit salak ini dapat dikembangkan sebagai minuman berbahan alami yang bermanfaat bagi pengobatan DM.


Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini: kulit buah salak dari varietas salak pondoh, pandan wangi, kayu manis, gula stevia, DPPH, etanol, aquades, reagen Follin-Ciocalteau, larutan Na2CO3.
Alat
Alat untuk pembuatan teh herbal berbasis kulit salak : gelas ukur, timbangan analitik, panci, sendok, thermometer, refrigerator, pisau, baskom, cup plastik, kertas saring. Alat untuk pengujian aktivitas antioksidan metode DPPH, IC50, Total Fenol: tabung reaksi, vortex, spektrofotomer, pipet ukur, bola hisap, kuvet.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 2 faktor, masing-masing faktor terdiri dari 3 level. Tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga

didapat 27 satuan perlakuan. Faktor-faktor tersebut sebagai berikut:Faktor I = rasio filtrat kulit salak : filtrat pandan wangi (60:40 (v/v); 75:25 (v/v); 90:10 (v/v)) dan faktor II = penambahan filtrate kayu manis (1%; 2%; 4% (v/v total). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA, apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji BNT atau DMRT dengan selang kepercayaan 5% dan penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode Zeleny.
Tahapan Penelitian
Pembuatan dan penentuan formulasi teh herbal kulit salak dimulai dari proses pembuatan filtrat kulit salak, pembuatan filtrat kayu manis dan filtrat pandan wangi kemudian dilakukan pembuatan minuman teh herbal berbasis kulit salak dengan formulasi yang telah ditentukan. Serta dilakukan perhitungan perlakuan terbaik berdasarkan hasil analisis untuk mengetahui perlakuan terbaik dari teh herbal kulit salak bagi penderita diabetes.
Metode Penelitian
Kulit salak disortasi dan ditimbang sebanyak 100 gram kemudian dicuci bersih dengan air mengalir kemudian dimasukkan ke dalam air sebanyak 1000 ml lalu dilakukan perebusan 100 oC dan ditunggu selama 120 menit untuk proses filtrasi. Perbandingan kulit salak dengan air adalah 1:10. Selanjutnya filtrat kulit salak disaring dengan kain saring untuk memisahkan filtrat dengan ampasnya. Analisis bahan meliputi total fenol, kadar antioksidan, flavonoid kualitatif, warna dan pH.
Kayu manis disortasi, dilakukan pengecilan ukuran lalu dicuci bersih dan ditimbang sebanyak 50 gram. Setelah itu direbus dengan air sebanyak 250 ml pada suhu 100 oC selama ± 15 menit. Perbandingan kayu manis dengan air adalah 1:5. Air rebusan kayu manis disaring dengan kain saring dan ampasnya dibuang. Analisis bahan meliputi total fenol, kadar antioksidan, warna dan pH.
Daun pandan wangi disortir sesuai dengan kriteria lalu dicuci bersih dengan air mengalir selanjutnya dilakukan pengecilan ukuran 3 – 5 cm. Kemudian ditimbang sebanyak 100 gram dan direbus dengan air sebanyak 500 ml pada suhu 100 oC selama ± 15 menit. Perbandingan daun pandan wangi dengan air adalah 1:5. Setelah itu disaring dengan kain saring. Ampas dibuang. Analisis bahan meliputi total fenol, kadar antioksidan, flavonoid kualitatif, warna dan pH.
Hasil Penelitian pendahuluan yang telah dilakukan didapatkan formulasi filtrat kulit salak dan filtrat pandan wangi yaitu 60:40 (v/v); 75:25 (v/v); 90:10 (v/v)) dengan penambahan filtrat kayu manis (1%; 2%; 4% (v/v total). Formulasi ini diharapkan dapat menghasilkan teh berbasis kulit salak yang memiliki rasa dan aroma yang khas serta kadar antioksidan yang tinggi. Bahan baku filtrat kulit salak, filtrat pandan wangi dan filtrat kayu manis diformulasikan menjadi satu dengan sesuai proporsi yang telah ditentukan. Ditambahkan stevia sebanyak 1 gram. Dilakukan homogenisasi dengan pemanasan pada suhu 650C selama ±5 menit. Didapatkan teh herbal kulit salak yang diinginkan lalu dilakukan analisis kadar antioksidan, total fenol, flavonoid kualitatif, pH, warna dan analisis organoleptik.
Prosedur Analisis
Uji Aktifitas Antioksidan [8]
Pengujian aktvitas antioksidan dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 0.1 ml lalu ditambahkan etanol sebanyak 5 ml,divortex dan diambil sebanyak 4 ml. Selanjutnya ditambahkan DPPH 1 ml 0.2 mM larutan 1.1-diphenyl-2-pycrilhidrazil (DPPH) dalam etanol, divortex kemudian diinkubasi di tempat gelap selama 30 menit dan diabsorbansi pada panjang gelombang 517 nm.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar